Konsep flow pertama kali dikemukakan oleh Csikszentmihalyi (1990). Menurut pendapat Csikszentmihalyi (1990, dalam Rupayana, 2002), flow
adalah perasaan yang timbul pada diri seorang manusia saat ia bertindak
secara total di dalam kegiatan yang ia ikuti. Nakamura dan
Csikszentmihalyi (2002) menerangkan bahwa seseorang yang mengalami flow
akan menganggap aktivitas yang ia lakukan penting dan berharga untuk ia
lakukan, terlepas dari ada atau tidaknya gol yang dapat dicapai dalam
melakukan kegiatan tersebut. Individu yang mengalami flow biasanya
terlibat secara intens di dalam kegiatan yang ia lakukan, sehingga tak
jarang mereka cenderung untuk tidak sadar dengan waktu atau tempat
(Schunk, Pintrich & Meece , 2008).
Flow tidak terjadi
secara tiba-tiba. Menurut Csikszentmihalyi (1997, dalam Shernoff,
Csikszentmihalyi, Schneider & Shernoff, 2003), untuk dapat mengalami
flow, (1) seseorang perlu berkonsentrasi, (2) merasa berminat, serta (3) bersemangat pada saat saat ia melakukan suatu aktivitas. Ketiga unsur tersebut perlu untuk terpenuhi pada saat yang bersamaan agar flow bisa terjadi. Di dalam setting sekolah, flow
diketahui dapat terjadi pada siswa jika tugas-tugas yang diberikan oleh
guru sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Tugas-tugas sekolah
yang diberikan kepada siswa sebaiknya tidak terlalu mudah tapi juga
tidak terlalu mudah.
Flow
juga terjadi saat kondisi lingkungan belajar dapat membuat siswa lebih
semangat, terstimulasi, serta mau untuk lebih terlibat di dalam proses
belajar. Selain itu, flow bisa pula terjadi jika siswa
menemukan adanya relevansi antara materi yang dipelajari dengan
kehidupan mereka sehari-hari. Terakhir, adanya keleluasaan yang cukup
besar pada siswa untuk mengontrol aktivitas belajarnya juga diketahui
dapat membuat siswa mengalami flow.
Flow
diketahui memiliki dampak positif terhadap performa belajar siswa.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shernoff, Csikszentmihalyi,
Schneider dan Shernoff (2003) menunjukkan bahwa siswa yang mengalami flow
lebih mau untuk terlibat di dalam proses belajar, mengalami peningkatan
performa akademik, lebih merasa bersemangat saat mendapat tugas yang
cukup menantang, dan cenderung lebih baik dalam hal atensi, mood serta
motivasi belajar dibandingkan siswa-siswa lain yang tidak mengalami flow. Hasil penelitian lainnya yang menunjukkan eratnya kaitan flow
dengan pencapaian akademik ditemukan oleh Engeser et al. (2005, dalam
Schuler & Engster, 2009). Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa
pengukuran flow di awal semester pada siswa yang mengambil kelas bahasa asing dapat memprediksi pencapaian mereka di akhir semester.
Teori flow
cukup mudah diaplikasikan di dalam setting belajar-mengajar di kelas.
Schunk, Pintrich dan Meece (2008) memberikan lima tips untuk
mengaplikasikan teori flow di dalam kelas.
Tips tersebut antara lain:
1. Sesuaikan antara tingkat kesulitan tugas dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa:
Tugas yang diberikan kepada siswa sebaiknya bersifat menantang, namun
masih dapat dikerjakan oleh mereka. Dengan demikian, tantangan tersebut
dapat membuat siswa termotivasi untuk menyelesaikannya, bukan malah
membuat mereka menjadi demotivasi.
2. Ciptakan kesempatan bagi siswa untuk menentukan pilihan, mengambil keputusan, dan aktif melakukan sesuatu:
Contohnya pada pelajaran komputer, siswa diminta untuk membuat sebuah
program sederhana. Namun mereka diberi kebebasan untuk membuat program
apapun, asalkan sesuai dengan apa yang telah dipelajari di kelas.
3. Ciptakan iklim emosional yang positif dan bebas dari rasa takut, cemas, atau emosi negative lainnya di kelas dapat memancing siswa untuk dapat mengalami flow saat sedang belajar di kelas.
4. Berikan tugas yang memiliki tujuan jelas: Hal ini sesuai dengan pandangan dasar dari teori flow,
yakni keterlibatan mendalam di dalam suatu aktivitas dapat terjadi
apabila individu mengetahui target atau gol secara jelas. Target yang
jelas ini akan membantu siswa agar usahannya lebih fokus.
5. Menciptakan berbagai kesempatan untuk memberikan umpan balik:
Saat siswa sedang mengerjakan latihan di kelas, guru sebaiknya
berkeliling sambil melihat progress para siswanya. Dengan berkeliling,
guru dapat memberikan kesempatan untuk bertanya sesegera mungkin saat ia
mengalami kesulitan untuk mengerjakan soal latihan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar